Jauh-jauh
hari sebelum Khomaini mencuci otak pemuda-pemuda kita di Iran dan melalui
mereka mengexport revolusi Syi’ahnya ke indonesia, KH Hasyim Asy’ari (pendiri
NU) ketika membuat Qanun Asasi Li Jam’iyah Nahdhatul Ulama’ beliau sudah
mewanti-wanti agar kaum Nahdhiyin berpegang teguh dengan aqidah Ahlussunnah Wal
Jama’ah (madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali) serta waspada dan tidak
mengikuti Madzhab Syi’ah Imamiyah dan Syiah Zaidiyyah. Hal mana karena keduanya
adalah Ahli Bid’ah.
Dalam halaman 7 (tujuh) Qanun Asasi tersebut beliau
menyampaikan Hadits Rosululloh yang
berbunyi : “Apabila timbul finah atau Bid’ah, dimana sahabat-sahabat ku di
caci maki, maka setiap orang yang berilmu di perintahkan untuk menyampaikan
ilmunya (menyampaikan apa yang ia ketahui tentang kesesatan Syi’ah). Dan barang siapa tidak melaksanakan perintah tersebut, maka dia akan mendapat laknat
dari Alloh dan dari Malaikat serta dari seluruh manusia. Semua amal kebajikannya,
baik yang berupa amalan wajib maupun amalan sunnah tak akan diterima oleh Alloh”.
Kemudian
di halaman 9 (sembilan) Qanun Asasi tersebut beliau juga berfatwa, bahwa Madzhab
yg paling benar dan cocok untuk di ikuti di akhir zaman ini adalah empat Madzhab,
yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali (ke empatnya Ahlussunnah Wal Jama’ah).
Selanjutnya beliau berkata : “ Selain empat Madzhab
tersebut juga ada lagi Madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah, tetapi
keduanya adalah Ahli Bid’ah, tak boleh mengikuti atau berpegang dengan
kata-kata mereka”.
Adapun mengenai Assawadul A’dhom ( golongan terbanyak)
sebagai tanda golongan yang selamat dan akan masuk Surga, maka di halaman 9
(sembilan) Qanun Asasi tersebut, KH Hasyim Asy’ari telah mengutip sabda
rosululloh SAW. sbb: “Ikutlah kalian kepada Assawadul A’dhom
(golongan terbanyak)”.
Menanggapi Hadits Assawadul
A’dhom tersebut, KH Hasyim Asy’ari berfatwa :” Karena fatwa membuktikan bahwa
empat Madzhab, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali (kesemuanya
Ahlussunnah Wal Jama’ah) tersebut merupakan Madzhab yg paling banyak
pengikutnya, maka barang siapa mengikuti Madzhab empat tersebut berarti
mengikuti Assawadul A’dhom dan siapa saja keluar dari empat Madzhab tersebut
berarti telah keluar dari Assawadul A’dhom”.
Dengan adanya fatwa-fatwa tersebut
diatas, jelas bagi kita bahwa KH Hasyim Asy’ari sudah berusaha agar kaum
Nahdhiyin berpegang teguh dengan empat Madzhab Ahlussunnah serta waspada dan
tidak sampai terpengaruh dengan propaganda Syi’ah.
Namun yang menjadi pertanyaan
sekarang adalah, bagaimana dengan oknum pengurus NU yang sampai sekarang
menjadi jurkamnya Syi’ah dan terus berusaha mensyiahkan orang-orang NU ?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar