Minggu, 30 November 2014

Ulama Murji’ah , Ulama Yang Ajarkan Agama Sesuai Keinginan Penguasa

Dikutip dari buku Da’wah Al-Muqawwamah Al-Islamiyyah Al-‘Alamiyyah’ atau Perjalanan Gerakan Jihad (1930 – 2002) Sejarah, Eksperimen, dan Evaluasi. ***
Doktrin Murji’ah muncul bersamaan dengan kemunculan ulama penguasa, yaitu saat sistem monarki lahir dan sistem khilafah lenyap. Di sini, terjadi pemisahan antara penguasa dan Alquran.
Akidah menyimpang ini secara ringkas bisa digambarkan bahwa iman adalah pembenaran dengan hati dan pernyataan dengan lisan saja. Para penganut doktrin ini tidak memasukkan amal dari bagian makna iman.
Mereka berkata: iman adalah pembenaran dan kemaksiatan tidak akan membahayakan iman. Barangsiapa yang mengucapkan kalimat syahadat ‘laa ilaaha illallah’ kami hukumi Islam, tanpa peduli apa yang ia katakan atau perbuat setelahnya.
Mereka mengesampingkan semua kaidah nawaqidhul iman (hal-hal yang membatalkan iman) yang diterangkan oleh Al-Quran, Sunnah, dan pendapat-pendapat fuqaha yang terpercaya.
Ibnu Asakir meriwayatkan melalui jalur An-Nadhar bin Syumail, berkata, “Saya masuk ke tempat Al-Ma’mun, lalu dia bertanya, ‘Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Nadhar?’ Saya menjawab, ‘Baik-baik saja, wahai Amirul Mukminin.’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah Murji’ah itu?’ Saya menjawab, ‘Murji’ah adalah agama yang menyesuaikan para raja. Mereka mendapatkan kekayaan dunia dengan agama dan mengurangi agama mereka.’ Al-Makmun berkata, ‘Kamu benar.’”
Para fuqaha kerajaan mengambil doktrin tersebut hingga para ulama peneliti mengistilahkan mazhab Murji’ah sebagai agama (keyakinan) yang disukai para raja. Menurut mazhab ini, para penguasa tetaplah muslim, mereka waliyyul amr (pemegang urusan kita) yang berhak ditaati, walaupun mereka merampas harta dan mencambuk punggung kita. Umat ini tetap harus berkata, “Kami ridha.” Ya, mereka tetap muslim, walaupun mengambil harta rakyat dan mencambuk punggung.
Fuqaha kerajaan itu lebih melonggarkan lagi kepada mereka dengan tambahan; walaupun para penguasa melecehkan harga diri dan menumpahkan darah kita; walau mereka berteriak dengan kata dan perbuatan seperti para pendahulunya sesumbar, ‘Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, ‘Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?” (Az-Zukhruf: 51)
Walaupun, para penguasa tersebut terang-terangan mengatakan ketidakcocokan hukum syariah untuk zaman sekarang. Walaupun mereka mengangkat pelindung dari musuh-musuh Allah. Walau mereka berperang dan memberangkatkan tentara untuk berperang di bawah panji-panji Yahudi dan Nasrani untuk membunuh muslimin. Dan walau…walau… yang lain.
Fuqaha kerajaan itu beralasan: bukankah penguasa tersebut menunaikan shalat Idul Fitri dan Idul Adha? Bukankah dia merayakan maulid nabi? Bukankah dia berzina dengan alibi nikah mut’ah yang dibolehkan oleh sebagian fuqaha? Bukankah ketika penguasa menelanjangi muslim dan muslimah yang bukan budak di berbagai penjara dan menyiksa mereka ada dalilnya, yaitu perkataan Ali kepada utusan Hatib bin Abu Balta’ah, “Keluarkan suratmu atau kami akan menelanjangimu?”
Bukankah penguasa boleh membunuh sepertiga rakyatnya agar dua pertiga rakyatnya menyerah kepada dirinya. Semuanya itu ada dalil-dalilnya menurut anggapan para ulama palsu saat ini. Mazhab Murji’ah ini karena begitu longgarnya, berisikan para Musailamah tukang bohong!
Demikianlah, Imamul Ulama, Ibnu Utsaimin melakukan pengembangan dari mazhab Murji’ah dengan mengatakan -sungguh, apa yang dikatakannya adalah pendapat yang hampir-hampir bumi pun pecah dan gunung pun runtuh karena begitu tidak masuk akalnya-, “Katakan, andai penguasa itu dihukumi kafir, apakah itu berarti kita harus ikut mengobarkan kemarahan orang terhadap penguasa hingga terjadi pembangkangan, chaos dan peperangan? Tentu saja tindakan itu salah.”
Agar orang tidak salah memahami bahwa yang dia maksud adalah penguasa di negaranya –karena menurut Ibnu Utsaimin, mereka masih berhukum dengan syariat Islam, alhamdulillah- maka Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Seandainya penguasa di negara lain menjadi kafir, tetap saja tidak boleh keluar (memberontak)…”
Ucapannya yang seperti itu menantang pernyataan Alquran yang sharih (jelas), Sunnah yang shahih, dan ijma’ umat! Kemudian, Syaikh Al-Albani mengadopsi aliran kontemporer lain dalam kerangka mazhab Murji’ah, ia berkata, “Keluar (membangkang) penguasa pada masa sekarang ini sama saja keluar dari Islam itu sendiri.” Al-Albani bersaksi para penguasa Saudi Arabia itu tetap dalam keislaman mereka.
Selanjutnya, pembohong lain yang disebut sebagai mufti Agung Pakistan, Rafi’ Utsmani berkata, “Orang-orang yang terbunuh karena membela diri melawan serangan tentara pemerintah Pakistan bukanlah syuhada!” Rafi’ Utsmani membantah hadits Rasulullah, “Barangsiapa terbunuh membela hartanya, keluarganya, atau darahnya, atau agamanya, maka dia mati syahid.” (HR Abu Daud: 4774)
Rafi’ Utsmani juga menyatakan bahwa orang-orang Amerika dan kaki tangannya termasuk musta’man (non muslim luar yang dijamin keamanannya karena adanya perjanjian tertentu) sekaligus dzimmi (non muslim yang tinggal di negara Islam yang harus dilindungi harta, jiwa, dan kehormatannya selama mau membayar pajak), tidak boleh diganggu di Pakistan atau di negara mereka.
Rafi’ juga mencabut fatwa sebelumnya yang membolehkan operasi istisyhad (bom berani mati syahid). Ia berkata, “Kita tidak terbebani wajib jihad, kecuali apabila pemerintah (Presiden Musyarraf) menyerukannya.”
Ini seperti kasus ketika Dhiyaul Haq menyerukan jihad melawan Rusia. Mufti berkata, barangsiapa bertempur bersama Amerika melawan kaum muslimin, dia hanya berdosa saja dan tidak kafir dan bahwa berhukum dengan selain hukum Allah itu berdosa, namun tidak mengeluarkan dari Islam. Paling banter itu adalah kufur kecil.
Itulah yang kebanyakan terjadi pada para imam dakwah dan ilmu agama dari kelompok Murji’ah modern pada masa sekarang ini, baik yang sudah mangkat atau pun yang masih hidup dan berbuat demikian.
Hal yang patut digarisbawahi mengenai aliran politik Murji’ah adalah, mereka mau bertenggang rasa pada perilaku para raja dan penguasa, tetapi mereka tidak mau bertenggang rasa pada aksi para mujahid dan aktivis dakwah yang istiqamah. Mereka berani menghukumi para mujahidin sebagai anjing-anjing penghuni neraka! Mereka itu harus dibunuh, disalib, dipotong silang tangan dan kakinya, serta harus diusir dari tempat kediamannya di dunia ini.
Aliran Murji’ah ini mempertanyakan, “Bagaimana mujahidin membunuh Nasrani yang duduk di negeri kita dengan izin dari penguasa kita sehingga dia telah menjadi musta’min dan mu’ahid! Bagaimana boleh para penjahat dari orang-orang yang menyerukan jihad itu lalu menumpahkan darah salibis yang ‘suci’! Bagaimana boleh mereka melanggar jaminan keamanan penguasa murtad yang memberinya hak aman?”
Satu catatan aneh dan mengherankan dari fenomena aliran Murji’ah politik adalah bahwa para pemimpin mereka dari ekstrin tasawuf hingga yang disebut ekstrim salafi, atau Asy’ari, Maturidi, dan aliran Ahli Hadits memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang zat, asma, dan sifat Allah.
Namun subhanallah, mereka justru sepakat dalam hal keislaman penguasa (murtad), nama-nama, dan sifat-sifatnya, seperti yang terjadi di Maroko dan Pakistan, yang aliran ini eksis di sana. Aliran Murji’ah politik ini mau bersikap longgar kepada raja di bumi, tapi tidak mau bertenggang kepada Raja langit dan bumi serta isinya.
Penulis tampaknya tidak menemukan justifikasi bagi fenomena mazhab ini ketika mereka memilih dunia politik dan aktivitas demokrasi, kecuali dengan menggolongkan mereka sebagai bagian dari al-mala’ (kroni-kroni). Sebab, mereka akan masuk kedalam parlemen (institusi yang membuat hukum selain hukum Allah) dan masuk pemerintahan (institusi yang menerapkan hukum selain hukum Allah). Lantas, bagaimana mereka kemudian mengingkari penguasa, sedangkan mereka sudah masuk dalam golongan, sekutu, dan kroninya?
Lalu, apa solusinya? Solusinya adalah dengan tidak masuk kedalam institusi-institusi tersebut atau dengan menyatakan keislaman penguasa tersebut! Dan ternyata mereka lebih memilih yang mudah dan enak, yaitu menyatakan keislaman penguasa murtad yang menantang Allah dengan perang dan permusuhan, serta mencabut hak paling khusus Allah berupa uluhiyah.
- Syeikh Abu Mus’ab Assuri-


http://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/abu-mush-ab-as-suri-akidah-politik-murji-ah-dalam-gerakan-islam.htm

Minggu, 19 Januari 2014

Suara Persaudaraan

      Tragedi kemanusiaan yg menimpa saudara kita di mesir, suriah, dan bagian bumi yang lain membuka tabir keberpihakan dan pembelaan. ada yang membela dan membantu kaum muslimin dengan mengirimkan bantuan logistik, kesehatan atau mengumpulkan dana untuk mereka. Ada yang jelas-jelas berpihak pada tiran yang dzalim dengan membuat statemen yang menyudutkan kaum muslimin atau bahkan memutar balikan fakta. Ada pula yang menutup mata dan menyatakan bahwa itu adalah masalah internal negara mereka sehingga kita tak perlu ikut campur. seolah tak ada kewajiban bagi seorang muslim menolong saudara muslim lainnya yang berada di lain negara.
Padahal, nushrah (pertolongan) merupakan kewajiban dalam kerangka persaudaraan dan iman. Persaudaraan dalam islam tidak mengenal batas teritorial negara maupun bangsa. Yang ada hanyalah sekat antara keimanan dan kekafiran. Ketika saudaranya terancam jiwanya, terinjak kehormatannya maka sebagai seorang muslim kita harus menolongnya dengan jiwa, harta, serta melindungi kehormatannya. Rasulullah bahkan mengancam bagi orang yang tidak mau menolong saudaranya sementara ia mampu. Rasulullah bersabda : “ Tidaklah seseorang meninggalkan seorang  muslim di suatu tempat yang kehormatannya di rusak dan harga dirinya di hinakan, melainkan pasti Allah akan meninggalkannya di suatu tempat yang biasanya Allah senang memberikan pertolongan-Nya. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim di suatu tempat yang harga dirinya di hinakan dan kehormatannya di rampas, melainkan Allah pasti akan menolongnya di suatu tempat yang Allah senang memberikan pertolongan-Nya “ (HR. Abu Dawud. Lihat shahih al jami’ ash-shaghir :  V/160)
Muhammad bin Said al-Qathani menjelaskan bahwa dalam masyarakat Islam, seorang muslim merupakan anggota aktif. Ia laksana salah satu anggota badan, yang apabila bagian tubuh ini tertimpa rasa sakit atau terganggu aktivitasnya, hal itu akan berpengaruh terhadap anggota tubuh yang lainnya. Sebelum merasa sebagai satu kesatuan tubuh yang saling menguatkan, akan sulit bagi kaum muslimin untuk meraih kemenangan.
Pertolongan bisa di wujudkan dalam banyak hal. Di antaranya membela jiwa, menghancurkan rintangan yang di pasang oleh orang2 dzalim, menyumbangkan harta benda untuk mengkokohkan dan menguatkan hubungan, melindungi kehormatan, mendoakan dari kejauhan agar mereka tetap memperoleh kemenangan, petunjuk dan jalan yang lurus, mengikuti berita2 kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, serta memahami kondisi mereka dan menopang mereka dengan segenap kemampuan.
Jadi, jangan menutup mata, telinga dan hati. Mari kita tumbuhkan kesadaran ukhuwah kepada orang2 terdekat kita dan lakukan apa yang kita mampu untuk menolong saudara kita sesama muslim.

Minggu, 05 Januari 2014

Allah Tahu yang Kita Mau, Kenapa Perlu Berdoa?

“Mengapa kita perlu berdoa? Bukankah Allah Mahatahu semua yang kita inginkan? Jadi kenapa harus meminta? Apakah itu bukan berarti mendikte Allah untuk melakukan apa yang kita inginkan?” Yang lain lagi berkata, “Kenapa perlu berdoa? Toh apa yang Allah lakukan adalah apa yang Dia kehendaki, bukan apa yang kita kehendaki.”
Itulah di antara pikiran nyeleneh yang berseliweran dalam wacana dan perbincangan, bahkan sudah ada yang menjadikannya sebagai pegangan. Meskipun aneh, tapi jalan logika semacam itu bisa berpotensi menggembosi semangat kita untuk berdoa.
Inilah Jawabannya
Ya, kita perlu berdoa, karena Allah suka jika hamba-Nya berdoa kepada-Nya. Doa adalah bukti bahwa kita mengakui kelemahan kita di hadapan Allah, merasa rendah di hadapan-Nya dan senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya. Doa adalah pengakuan manusia, bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan Allah.
Orang-orang yang tidak mau berdoa kepada Allah hanyalah orang yang sombong, seakan ia tidak butuh pertolongan Allah, atau merasa gengsi kalau harus merajuk dan merendahkan diri di hadapan Allah. Wajar jika Allah memurkai orang-orang semisal ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Bahwasanya barangsiapa yang tidak (mau) meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.” (HR Tirmidzi)
Ath-Thiibi menjelaskan hadits tersebut, “Barangsiapa yang tidak mau memohon kepada Allah maka ia telah memposisikan diri untuk dibenci oleh Allah, dan orang yang dibenci layak untuk dimurkai, dan Allah suka jika hamba-Nya memohon kepada-Nya.
Allah menyebut orang-orang yang tidak mau berdoa kepadaNya sebagai orang yang sombong, sebagaimana firman-Nya,
“Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS al-Mukmin 60)
Mereka menyombongkan diri dari ibadah kepada Allah, dan makna ibadah dalam ayat ini adalah doa, sebagaimana jelas ditunjukkan oleh kalimat sebelumnya. Dan secara definitif Nabi shallallahu alaihi wasallam juga menafsirkan kata ‘ibaadati (beribadah kepada-Ku) pada ayat tersebut dengan doa. Sebagaimana yang dikatakan oleh an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasuullah shallallahu alaihi wasallam bersabda di atas mimbar,

اَلدَّعَاءُ هُوَ اْلعِباَدَةُ

“Doa adalah ibadah..” Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam membaca ayat tersebut. (HR Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan shahih)
Syeikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa doa adalah ibadah, karena ketika seseorang berdoa kepada Allah, maka dia telah membangun doanya di atas dua keyakinan; Pertama, bahwa ia mengakui betapa mendesak kebutuhan dirinya kepada Allah dan bahwa tidak ada tempat bersandar selain kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kedua, bahwa doa menjadi bukti ta’zhim (pengagungan) dan keimanannya kepada Allah karena dia yakin bahwa Allah kuasa untuk mengabulkannya.”
Ini juga menjadi jawaban bagi orang yang menganggap bahwa berdoa berarti mendikte Allah untuk melakukan sesuatu, atau bahkan menyuruh Allah untuk ini dan itu. Doa adalah permohonan. Secara bahasa, permohonan adalah permintaan yang ditujukan dari yang lebih rendah derajatnya kepada yang lebih tinggi derajatnya. Jika ada anak yang meminta uang saku kepada orangtuanya, itu bukan berarti anak lebih tinggi derajatnya daripada orangtua. Justru menunjukkan, bahwa orangtua lebih tinggi statusnya daripada anak. Orang yang berdoa kepada Allah justru menunjukkan dirinya lemah dan butuh di hadapan Allah.
Doa adalah Cara yang Diperintahkan
Allah memang mengetahui keiginan kita dan Mahakuasa untuk memberikan apa yang kita inginkan meskipun tanpa meminta. Akan tetapi Allah menetapkan doa sebagai cara bagi manusia yang ingin mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Meskipun Allah telah menganugerahkan kepada manusia nikmat tak terhitung banyaknya tanpa manusia meminta. Allah menjadikan doa sebagai sebab, sebagaimana ikhitar ragawi juga menjadi sebab untuk mencapai tujuan. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.” (QS al-Mukmin 60)

Ketika manusia menginginkan sesuatu yang menurutnya adalah kebutuhan, maka Allah memerintahkan manusia untuk meminta kepada-Nya sebagai bentuk ikhtiyar. Dan Allah menjanjikan pengabulan doa bagi yang mau melaksanakannya.
Bahkan, Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Doa adalah sebab yang paling dominan untuk meraih sesuatu yang dicari dan menolak sesuatu yang dibenci.” Betapa banyak kisah dari zaman ke zaman yang menunjukkan dahsyatnya kekuatan doa. Dan banyak di antara peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa doa mampu menghasilkan sesuatu yang tidak dimampui oleh usaha manusia.
Ini juga menjadi jawaban pertanyaan, “Apa perlunya berdoa, sedangkan Allah berbuat sesuai kehendak-Nya, bukan sesuai kehendak manusia?”
Bahwa Allah memang berbuat dengan apa yang Dia kehendaki, “Fa’aalul limaa yuriid”, Dia berbuat apapun yang Dia kehendaki, tapi jangan lupa bahwa doa hamba-Nya adalah termasuk sesuatu yang Dia kehendaki. Terbukti sangat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya, wallahu a’lam bishawab.

SYIAH BUKAN ISLAM !!!





I. BEDA TUHAN, NABI, DAN IMAM

Kitab Al-Anwar An-Nukmaniyyah, Juz. II, Hal. 278...

 
وحاصله إنا لم نجتمع معهم على إله ولا على نبي ولا على إمام ، وذلك إنهم يقولوا أن ربهم هو الذي كان محمد نبيه وخليفته بعده أبو بكر ، ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذلك النبي ، بل نقول أن الرب الذي خليفة نبيه أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا .

"Intinya, kami (syiah) tidak bersepakat dengan mereka tentang tuhan, nabi, dan imam. Itu semua disebabkan, mereka mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah yang memilih Muhammad sebagai Nabi-Nya dan Abu Bakr adalah khalifah setelahnya, sedangkan kami tidak mengatakan demikian, bahkan kami mengatakan bahwa Tuhan yang menghendaki khalifah setelah nabi-Nya adalah Abu Bakar adalah bukan Tuhan kami dan nabi tersebut bukanlah nabi kami."




 II. BEDA KITAB SUCI
Ushul Kaafi, Karya Al-Kulaini, Juz. I, Hal. 295 menerangkan :

عن ابن بصير عن ابي عبد الله قال : ان عندنا لمصحف فاطمه, وما يدريك ما مصحف فاطمه ؟ قال : قلت : وما مصحف فاطمه؟ قال : مصحف فاطمه فيه مثل قرآنكم هذا ثلاث مرات.


Dari Ibnu Bashir: dari Abu Abdullah berkata: Sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah, apakah kamu tahu apa itu mushaf Fatimah? Berkata (Ibnu Bashir): Aku berkata: Apa itu mushaf Fatimah? Ia menjawab: Mushaf Fatimah di dalamnya seperti Quran kalian ini tiga kali lipat (lebih banyak).




III. IMAM SYIAH SUKSES, NABI ISLAM GAGAL

Kitab Mukhtaarat min Ahadits wa Khithabaat Imam Khumaini, menjelaskan secara gamblang tentang pernyataan Khumaini:...

فكل نبي من الأنبياء إنما جاء لإقامة العدل وكان هدفه هو تطبيقه في العالم لكنه لم ينجح ، وحتى خاتم الأنبياء صلى الله عليه وسلم هو أيضا لم يوفق ، وإن من سينجح بكل معنى الكلمة ويطبق العدالة في جميع أرجاء العالم هو المهدي المنتظر .

"Maka setiap nabi dari para nabi ( yang ada) hanya diutus untuk menegakkan keadilan dan tujuannya adalah merealisasikannya dalam kehidupan di dunia ini, tetapi tak ada satupun yang berhasil, bahkan penutup para nabipun Rasulullah Shalallahu alaihi wasallaam juga tidak berhasil, dan sesungguhnya yang akan berhasil menegakkan dan merealisasikan keadilan di seluruh penjuru dunia adalah Al-Mahdi Al-Muntadhar."



IV. BEDA TANAH SUCI

Umat Islam menghormati dan memuliakan tempat yang telah dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya: Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis.

Beda agama Syiah, tiga tempat di atas adalah tempat yang paling menjijikan dan paling hina, ini buktinya:

1. Makkah dan Madinah

Al-Kulaini dalam Kitab Al-Kaafi juz 2 halaman 409 menyebutkan:

عن أبي بصير عن أحدهما عليهما السلام قال : إن أهل مكة ليكفرون بالله جهرة ، وإن أهل المدينة أخبث من أهل مكة ، أخبث منهم سبعين ضعفا .

Dari Abu Bashir dari salah satu diantara Abu Abdillah dan Abu Bakr Al- Hadramy berkata: "Sesungguhnya penduduk Makkah kafir kepada Allah secara terang2an, sedang penduduk Madinah lebih busuk dari penduduk Mekkah 70 kali lipat."

Lantas Al-Kulaini menambahkan riwayatnya:


عن أبي الحسن الرضا قال : إن للجنة ثمانية أبواب ، ولأهل قم واحد منها ، فطوبى لهم ثم طوبى لهم .

Dari Abu Al-Hasan Arridho berkata: "Sesungguhnya surga memiliki 80 pintu, dan satu diantaranya untuk penduduk Qum (Iran), beruntunglah mereka, beruntunglah mereka."

2. Baitul Maqdis.
Al-Kulaini dalam Al-Kaafi, Juz. II, hal. 409 menerangkan:


عن أبي بكر الحضرمي قال : قلت لأبي عبد الله : أهل الشام شر أم أهل الروم؟ قال: إن الروم كفروا ولم يعادونا ، وإن أهل الشام كفروا وعادونا .


Dari abu Bakr Al-Hadramy berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah:" Manakah yang lebih hina, orang2 Romawi atau orang2 Syam?" Ia menjawab: "Sesungguhnya orang2 Romawi kafir tapi tidak memusuhi kita, sedangkan orang2 Syam kafir dan memusuhi kita."

Lebih Tegas dari itu, Al-Kulaini meriwayatkan:


عن أبي عبد الله قال : أهل الشام شر من أهل الروم ، وأهل المدينة شر من أهل مكة ، وأهل مكة يكفرون بالله جهرة

Dari Abu Abdillah berkata: "Penduduk Syam lebih buruk daripada Penduduk Romawi, Penduduk Madinah lebih buruk dari pada Penduduk Mekkah, sedang Penduduk Mekkah kafir kepada Allah secara terang2an."




V. SYIAH ANAK SUCI, UMAT ISLAM ANAK ZINA

Al-Kulaini dalam Raudhatul Kaafi meriwayatkan :

عن أبي همزة ، عن أبي جعفر عليه السلام ، قال : والله يا أبا همزة إن الناس كلهم أولاد بغايا ما خلا شيعتنا .

Dari Abu Hamzah, dari Abu Jafar alaihissalam berkata:"Demi Allah wahai Abu Hamzah, sesungguhnya seluruh manusia adalah anak-anak pelacur kecuali Agama Syiah kita."



katakan dengan lantang bahwa "SYIAH BUKAN ISLAM !"

NGERIIII, ternyata Inilah sebab JIN Masuk Ke Dalam Tubuh Kita

Tahukah kamu bahwa jin masuk ke dalam  tubuh manusia bukan hanya karena sihir atau  di guna - guna saja, terkadang mereka bangsa jin masu...